Notification

×

Iklan

Iklan Ketua Aswhaja HUT MJ ke 23

 


Ketua DPRD Muarojambi Sebut, Harga TBS Sawit Anjlok, 70% Petani Sawit Dibahar Stop Produksi Hasil Perkebunan

| June 25, 2022 WIB

 

Ilustrasi : ( M Faisal/Radar Sampit )

Persroom.com, Muarojambi - Bagaimana tidak, akhirnya beberapa dari para petani buah kelapa sawit lebih memlih untuk berhenti meproduksi hasil perkebunan mereka, lantaran turunnya secara drastis harga Tandan Buah Sawit Segar ( TBS ) hingga hanya mencapai Rp. 600 Rupiah perkilogram nya.


Tentunnya rendahnya harga jual TBS tersebut tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus mereka keluarkan.


Seperti yang terjadi di Kecamatan Sungai Bahar,Bahar utara,Bahar selatan Kabupaten Muarojambi,Provinsi Jambi. Setidaknya hampir 90% masyarakat yang pekenomian nya hanya bergantung pada hasil perkebunan sawit, akhirnya lebih memilih untuk berhenti meproduksi hasil buah kelapa sawit mereka.


"Bagaimana mau produksi, Karena untuk biaya panen serta angkutnya saja, sudah mencapai Rp. 550 Rupiah sampai Rp. 650 rupiah  klo ngelangsir perkilonya," Sebut Yuli Setia Bakti Ketua DPRD Kabupaten Muarojambi kepada media ini.


Pastinya, hal ini mesengsarakan sekali bagi masyarakat, hususnya para petani buah kelapa sawit di Kabupaten Muarojambi yang notabene perekonomian masyarakat nya memang hanya bergantung pada hasil perkebunan kelapa sawit.


"Bila harga buah kelapa sawit seperti ini terus menerus, maka akan berdampak banyak, Seperti tingginya angka kemiskinan serta timbulnya tindak kejahatan di tengah masyarakat akibat dampak kesulitan perekonomian," Imbuh ketua DPRD Kabupaten Muarojambi.


Dari itu menurut dirinya, harus ada kebijakan cepat dan tepat dari pemerintah pusat untuk segera melakukan pemulihan kembali harga TBS saat ini. Karena bila permasalahan anjloknya harga TBS ini dibiarkan berlarut - larut maka akan berdampak besar untuk perekonomian di Indonesia, dan Masyarakat lah yang akan menjadi korbanya.


"Setidaknya agar para petani buah Kelapa sawit tidak sengsara, minimal harga jual TBS ditingkat petani itu dikisaran harga Rp. 2 ribuan lebih, barulah stabil penghasilan mereka," Ungkapnya (ndi)

×
Berita Terbaru Update